Selasa, 29 Januari 2008

MUSIBAH DAN PRILAKU ELIT

MUSIBAH DAN PRILAKU ELIT
Oleh Revi Marta Dasta
(Haluan. Sabtu, 10 Februari 2007)

Musibah nampaknya tidak akan pernah menimpa repoblik ini. Belum selaesai penanganan satu musibah sudah datang musibah berikutnya. Ketika pemerintah masih disibukaan dengan penangaan penyebaran flu burung, masih terbengkalainya korban demam berdarah, sekarang sudah datang banjir melanda kota Jakarta. Konsentrasi pemerintah seakan pecah dengan banyaknya musibah ini. Pemerintah seakan kewalahan, mana yang akan dijadikan prioritas dalam penanganan musibah ini. Sementara masing-masing musibah sama-sama penting untuk dibantu karena berhubungan dengan penyelamatan nyawa. Samapai saat ini bajin Jakarta telah merenggut puluhan nyawa manusia, belum lagi jumlah kerugian materi yang dialami. Masyarakat masih banyak mengungsi dan kelaparan karena tidaka mendapatkan pasokaan makanan. Walaupun bantuan demi bantuan mulai berdatangan ke tangaan masyarakat. Namun tidak bias menyelesaikan sepenuhnya masalah banjir ini.

Untunglah ada beberapa kalangan yang mencoba membantu pemerintah dalam menanggulangi banjir ini. Mereka bisanya adalah oaring selama ini yang dikenala sebagai relawan yang khusus dibentuk mewakli institusi atau organisasi tertentu. Umumnya mereka berasal dari baerbagai unsure masyarakat, baik itu PMI, relawan dari perguruan tinggi, pramuka sampai tim relawan yang dibentuk oleh parpol. Ada sebuah keinginan mulai yang tertanam dalam diri mereka tanap mengharapkan apa-apa selain melakukan pertolongan.

Namun berbeda dengan prilaku sebaian elit di negeri ini, musibang sepertinya dijadikan ajang untuk tebar pesona dan tebar simpati. Mereka berlomba-lomaba memberikan bantuan kapada masyarakat yang terkena musibah. Ada yang membentuk tim relawan kesehatan, yang mengerakakan sejumlah tim medis, menyediakan tim kesehatan, dan perahu sampai turun alngsung kepada masyarakat untuk sekedar memberi batuan. Dilihat dari perhatian yang mereka lakukan, sejujurnya kita harus berterimakah karena masih saja ada orang yang simpati dengan musibah yang menimpa masyarakat.

Namun yang menjadi kerisauan selama ini, elit lebih cenderung menjadikan musibah ini sebagai momen untuk mendapatkan simapati dan perhatian sebagia bagian awala dari kanpanye terselubung. Kalau ini terjadi, terkesan kurang ada keiklasa dibalik pemberian bantuan ini. Ada udang di balik bakwan, kata orang Minang artinya tidak terlihat kesungguhan.

Khusus untuk DKI Jakarta, karena akan mendekati pilkada memang menjadi momen yang sangat tepat untuk melakukan simpati kepada masyarakat. Tidak butuh biaya mahal-mahal untuk melakukan kampaye dalam masyrakat. Cukup datang membawa bantuan, kemudian menyerahkannya, lalu dimasukan kemedia sebagai bentuk promosi kaerana telah membantu.
MEWASPADAI KEMISKINAN BARU
Oleh : Revi Marta Dasta
(Haluan. Sabtu, 7 Arpil 2007)


Gempa yuang terjadi di Sumatera Barat telah banyak menyiksa masalah baru. Tidak hanya korban yang mendapat masalah, tetpai hanpir semua komponen masayrakat termasuk pemerintah juga merasakannya terutama merumuskan strategi dalam melakukan penangulangan terhadap efek yang ditimulkan oleh gempa ini. Diantara masalah tersebut adalah belum teridebntifikasinya juml;ah korban dan kerugian secara akurat, banyaknya masyarakat yang tidak lagi memiliki rumah, munculnya berbagai penyakit, meningkatnya jumalah pengaguran dan kemiskinan serta bahaya trauma yang dialami masyarakat paska gempa.

Misalnya saja pengaguran, menurut pemerintyah terjadi peningkatan jumalah pengaguran sebesar 15 ribu orang paska gempa. Di Indonesia telah bertambah jumlah pengaguran sebanya 2 ribu orang sejak bencana terjadi. Sebuah anagka yang sangat besar. Padahala sebelum gempa ini terjdi, masiih banyak persoalan yang belumbisa diselesaikan pemerintah.

Khusus di Sumatera Barat, penanganan kemiskianan lewat program Penangulangan Kemiskinan Berbasias Nagari (PKBN) yang telah dicangakan oleh pemerintah belum jelas arahnya. Belum lagi membludaknya jumalah pengaguran dari tahun ke tahun yang akan banyak menambah masalah baru. Konsentrasi masyarakat semakin pecah dengan terbakarnya Istano Pagaruyung ditambah dengan berbagai polemik tentang pembangunannya kembali.

Bencana dapat dipastikan akan mendatangkan kemiskinan baru dimasyarakat. Kalau di perhatikan, berapa banyak korban yang tidak lagi bias memenuhui kebutuhan hidupnya secara layak. Rumah mereka banyak rusak, kegiatan sehari-hari di habiskan ditenda, kapan lagi mereka akan berkerja, kalau tidak mereka mau makan apa. Tidak mungkin selamanya mereka harus bergantung dengan berbagai bantuan yang dating. Maka hibauan segenap pihak untuk korban gempa kembali berkerja juga harus ada sosulsinya. Misalnya memberikan kembali modal kerja, atau memperbaiki kembali saran dan prasarana korban gempa yang kebetulan rusak. Di harapkan mereka dapat berkerja sehingga biasa mandiri dan terjauh dari kemiskinan.

Kemiskinan
Kemiskinan merupakan situasi atau kondisi yang di alami seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai pada suatu taraf yang di anggap manusia. Artinya jika ada korban yang tidak bias menyelenggarakan kehidupan secara maka dapat di artikan telah timbul kemiskinan baru pasca gempa ini. Coba kita lihat korban bencana gempa, sempatkah mereka untuk menyelenggarakan hidupnya secara layak. Setiap hari mereka selalu berfikir bagaimana memperbaiki rumahnya, berapa biaya yang di butuhkan untuk memperbaikinya, dengan apa beras harus dibeli, biaya sekolah anak-anak dan segala macamnuya. Sementara trauma juga belum hilang karena masalah baru menghantui korban seperti banyaknya penyakit yang muncul dan bebean kebutuhan yang meninggakap tajam.

Untuk itu kita harus mewaspadai kemiskinan baru inimuncul. Dilihat dari dimensi kemiskinan, ada beberapa aspek yang mempengaruhuinya yaitu, pertama aspek politik, masyarakat tidak mampu memiliki akses dalam menentukan pengambilan keputusan strategis yang menyangkut haknya. Selama ini masyarakat miskin cendrung termarginalkan, mereka tidak diajak dalam pengambilan keputusan penting. Pemerintah sering menganggap mereka tidak tahu apa-apa.

Mereka cukup diberikan hasil dari berbagai keputusan. Mereka tidak diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Stikma bodoh telah melekat sehingga, tidak perlu diajak. Tetapi ketika ada kepentingan tertentu mereka berlomba-lomba mengemis kepada masyarakat miskin ini, terutama menyelang pemilihan kepala daerah atau legislative. Dalam bencana ini masyarakat korban juga selayaknya diajak dalam menentukan pembangunan kembali asset-aset mereka yang telah rusak, disamping melibatkan mereka dalam pembangunan kembali, artinya tidak hanya dibiarkan saja, namun juga diikut sertakan.

Kedua, dimensi budaya yaitu tidak terintegrasinya masyarakat dalam institusi social formal.aspek budaya ini menjadi perhatian utama, jangan sampai budaya hilang dengan adanya gempa ini, misalnya ketika terjadi gotong-royong masyarakat korban untuk membantu, namun untuk melakukan itu mereka di bayar oleh sebagian orang. Ini menandakan bahwa masyarakat telah dikikis nilai-nilai budayanya. Gotong-royong dan klebersamaan merupakan nila-nilai yang sudah ditanam sejak lama dan sudah menjadi ciri khas masyarakat. Ketiga aspek ekonomi, yaitu rendahnya penghasilan dan tidak mencukupi akibatnya kebutuhan tidak dapat dipenuhi akibat gempa banyak diantara korban yang kurang berpenghasilan atau tidak berpenghasilan sama sekali.toko atau tempat berusaha yang tidak dapat mereka gunakan lagi. Kondisi seperti yang perlu dapat perhatian, perekonomian masyarakat harus dapat dibangkitkan.

Program-program cepat untuk mengembalikan membangkitkan perekonomian meski dilakukan. Jangan sampai membiarkan masysarakat terlalu lama larut dengan bencana ini. Program jangka panjang perlu diterapkan selain bantuan-bantuan yang sifatnya hanya sementara. Ke empat dimensi asset, rendahnya kepemilikan masyarakat terhadap berbagai asset seperti asset fisik. Salah satu cirri kemiskinana itu adalah masyarakat tidak memiliki asset dalam memenuhui kebutuhannya. Seperti tidak memiliki yangtidak layak huni. Atau asset lainnya seperti lahan pertanian dan perkebunan atau took dan warung untuk berjualan.
Saat ini, asset fisik yang sudah lama di bangun masyarakat seakan sudah habis atau hanya tinggal beberapa saja. Rumah banyak yang rusak, lahan pertanian yang tidak layak pakai atau tempat usaha yang tidak mengkin lagi nberfungsi dalam meningkatkan produktivitas keluarga.
Berdasarkan kondisi riiil di lapangan dan dimensi kemiskinan tadi, maka sesengguhnya masyarakat pasca gempa ini sangat rawan jatuh kedalam jurang kemiskinan. Melihat fenomena ini pemerintah dan komponen masyarakat lainnya harus bergerak sekarang juga. Melakukan secepat mungkin tindakan nyata.


Perempuan dan bencana
Perempuan adalah orang yang paling banyak merasakan akibat dari gempa ini. Sehingga perempuan menjadi orang pertama tetimpa kemiskinan baru. Umumnya pekerjaan rutin yang dilakukan perempuan alah mengangkut air sampai berkilo-kilo untuk mandi, mencuci sampai memasak. Kemudian mengasuh anak, kadang-kadang juga harus menyediakan kebutuhan sehari-hari keluarga. Disaat gempa terjadi tentunya perempuan sangat merasakan akibatnya. Perempuan di tuntut harus pandai-pandai menyediakan air bersih, menyediakan tempat masak, menyediakan makanan, mengasuh anak dan sebagainya.

Sebenarnya laki-laki dan perempuan memiliki masalah yang sama dalam bencana ini. Tidak ada bedanya. Saya tidak mencoba melakukan pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam penangganan maupun memeberikan bantuan tetapi kita juga harus arif dengan kondisi perempuan itu sendiri. Walaupun sama-sama di rundung duka, namun semestinya perempuan mendapatkan perhatian lebih. Karena perempuan adalah orang yang paling banyak merasakan akibat gempa.

Semoga program recovery yang di canangkan pemerintah dapat berjalan dengan maksimal sehingga kemiskinan baru yang akan timbul dapat ditekan. Tentunya denga bantuan semua pihak dan tidak lupa melibatkan masyarakat yang menjadi korban akibat gempa. Wassalam.
MAK KUMI DAN KESEDIHAN KITA
Oleh Revi Marta Dasta
(Haluan. Senin, 26 Maret 2007)

Di tengah hiruk pikuknya kita dalam menangani masalah gempa dan pembangunan kembali istano pagaruyung, sejenak hati kita tersentak, ternyata saat ini masih ada masyarakat yang makan tanah untuk bertahan hidup. Padahal tidak ada terjadi musibah dan kejadian yang luar biasa di tempat itu sehingga mak kumi 65 tahun dan keluarganya harus makan tanah dalam mempertahankan hidupnya.

Coba kita renungkan, seprah itukah keadaan masyarakat hari ini? Tidak adakah orang yang peduli dengan masip mak kumi. Kemana larinya pemerintahan daerah, ninik mamak, alim ulama, tokoh parpol, tokoh LSM, mahasiswa dan tenaga pal kumi? Pernahkan terketuk hati mereka sebelumnya untuk membantu?

Beruntung harian Haluan mengelurkan pemberitaan kisah mak kumi ini. Kalau tidak mungkin saja mak kumi dan keluarganya akan seterusnya makan tanah. Atau harus bunuh diri secara massal karena tidak tahan lagi seperti yang dilakukan salah seorang ibu rumah tangga di Malang beberapa waktu lalu.

Tidak bias kita bayangkan di daerah yang katanya kaya dengan sumber daya alam ini, banyak menghasilkan ikan, perwisatanya yang sudah internasional, perkebunan yang luas ternyata masih saja ada masyarakat yang makan tanah, sungguh ironis.

Mak kumi mungkin salah satu potret kehidupan nyata masyarakat kita hari ini. Kalau kita mau berjujur-jujur masih banyak orang seperti mak kumi bahkan lebih parah dari pada itu. Beruntung semua tidak terekspos ke media masa. Kalau iya, bias saja semuanya akan kebakaran jenggot..Coba kita renungkan, untuk bertahan hidup saja mereka harus makan tanah, bagai man dengan pemenuhan kebutuhan yang lainnya, misalnya untuk menyekolahkan anaknya serta untuk beli kebutuhan lainnya. Bagaimana mereka dapat menikmati hidup secara layak seperti lainnya. Kalau lah banyak orang seperti Mak Kumi, maka tunggulah azab bagi kita semuanya.

Keadaan masyarakat kita hari ini terutama di daerah-daerah terpencil memang sangat menyedihkan. Masyarakat sudah lelah dengan keadaan hari ini, hamper semua bahan pokok kebutuhan masyarakat naik tajam. Misalnya saja beras dari harga Rp.9000 naik menjadi Rp. 14.000, sementara pemasukan masyarakat tidak banyak. Besar pasak dari pada tiang begitu pepatah orang. Belum lagi harga cabe, tomat, dan segala macamnya.kondisi ini ditambah lagi dengan datangnya bencana alam dan dampak yang di timbulka olehnya seperti penyakit dan rasa trauma yang belum hilang.

Tentu pemberitaan inoi yang lelah menampar wajah pemerintah daerah setempat. Walaupaun pak bupati dating dang lansung menangis didepan pak kumio, untuk sementara mungkin saja kesedihan pak kumi dan keluarganya terobati.

Namun cukuplah kedatangan itu, atau hanya sekedar melihatkan kepedulian s esaat. Saya yakin pak bupati tidak akan berbuat seperti itu. Namun pasti memikirkan jalan yang terbaik untuk membanti, kita tunggu saja.

Bukan bermaksud membesar-besarkan masalah, namun kasus ini adalah sebuah peringatan yang semestinya harus mendapatkan perhatian serius pemerintah. Sebab selam in, tingkat kemiskinan ditempat mak kumi cendrung sangat tinggi. Masyarakat banyak yang miskin. Disaat daerah lain berlomba-lomba dalam memajukan daerahnya tetapi kampong mak kumi seakn jalan ditempat. Ditabah lagi terjadinya banjir yang tidak berkesudahan. Setiap ada hujan selalu banjir dating. Tentunya akan menambah angka kemiskinan baru dalam masyarakat. Lahan yang tergenang air, jalan yang tidak bias digunakan dan sebagainya. Merupakan keadaan nyata yang harus diperhatikan.

Ya, sekali nasib Mak kumi, 65 tahun, memang malang, Sebuah kisah yang sangat menyedihkan dan memilukan. Mungkin saja Mak kumi sering merenung dalam hatinya mengapa ia harus makan tanah untuk bertahan hidup, padahal tetangga disebalahnya sudah berbicara tentang merek motor yang akan dibeli, jenis pakain yang akan dibeli atau berbicara tentang kemajuan-kemajuan yang telah diraih. Rasanya ia tidak menikmati enaknya 62 tahun merdeka. Untuk itu sangat dibutuhkan bantuan dari kita bersama.

KEMISKINAN

KEMISKINAN
Oleh: Revi Marta Dasta
(Haluan. Kamis, 1 Februari 2007)


Kemiskinan adalah masalah bangsa yang harus segera diselesaikan secepatnya oleh pemerintah. Banyak permasalahan yang muncul apabila angka kemiskinan ini terus melonjak. Dengan banyak orang miskin maka pengaguran, perelingkuhan dan tingkat kriminalitas yang tinggi serta masalah-masalah social lainnya akan silih berganti dating menerpamasyarakat. Orang tidak akan segan-segan untuk membunuh apabila perut lapar. Dalam bahasa minang “ Bialah bacakak jo urang dari pado bacakak jo galang-galang”, artiny orang tidak akan tahan menahan lapar, mereka rela berkelahi untuk mendapatkan sesuap nasi. Kondisi adalah seperti ini adalah fenomena social yang terus saja terjadi. Eskalasihnya cenderung meningkat, seakan moral dan etika akan hilang begitu saja akibat banyaknya kemiskinan ini.

Hamper setiap tahun pemerintah selalu memasukkan program pengentasan kemiskinan sebagai salah satu agenda prioritas pembangunan. Namun sampai saat ini kemiskinan tetap tidak bias dikurangi, malah cenderung mengalami peningkatan. Meskipun kemiskinan pernah turun drastis pada tahu 1976-1996, 40,1 % menjadi 11,3% dari total penduduk Indonesi, orang miskin meningkat kembali pada [eriode 1996-1999. akibat krisis multidimensional yang menerpa Indonesia, jumlah penduduk miskin pada periode 1996-1998, meningkat tanjam menjadi 22,5 juta jiwa (11,3 %) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2 %) atau bertambah sebanyak 27 juta jiwa (BPS, 1999).

Berdasarkan hasil data pendataan sosial ekonomi penduduk 2005, jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat tercata sebanyak 1,079.241 orang atau sebanyak 23.825 kepala keluarga. Jumlah ini mencapai 22,07 penduduk propinsi Sumatera Barat dan terjdi peningkatan sebesar 20,9 % dari tahun 2004 dimana tingkat kemiskinan di daerah kabupaten jauh lebih tinggi dari pada di kota.

Meskipun masyarakat miskin telah mendapatkan bantuan program pengentasan kemiskinan dari pemerintahan, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Masyarakat miskin yang telah tersentuh program pengentasan kemiskinan, tetap saja beranjak dari kondisi kemiskinannya. Karena itu pasti ada yang salah dengan pelaksanaan program pengentasan kemiskinan tersebut.

Bantuan tunai langsung dari kompensasi BBM yang diberikan pemerintah kepada masyrakat miskin adalah bias penanggulangan kemiskinan, karena hanya dinilai akan hanya menciptaka sindrom ketegantungan bagi masyarakat. Sesunguhnya BLT hanya cocok diberikan pada masyarakat yang tidak berdaya seperti orang cacat dan anak tertlantar. Pengentasan kemiskinan tidak hanya cukup dengan memberikan uang saja kepada masyarakat, tetapi yang harus dicari bagaimana masyarakat dapat melakukan usaha yang menimbulkan krentifitas dan kineja masyarakat. Masyarakat miskin jangan dibiasakan manja, tetapi yang dibutuhkan adalah peningkatan produktifitas. Maka pemerintah harus secepatnya merumuskan program-program pemberdayaan masyarakat miskin seperti program peningkatan kemampuan dan keterampilan kerja / usaha melaluan pendidikan dan latihan-latihan kerja, perluasan jaringan kerja, dan informasi pasar serta bantuan modal kerja.

JALAN ALTERNATIF, SOLUSI PENGENTASAN KEMISKINANA DI PESSEL

JALAN ALTERNATIF, SOLUSI PENGENTASAN KEMISKINANA DI PESSEL
OLEH: Revi Marta Dasta
(singgalang, jum’at 26 januari 2007)

saat ini, kabupaten pesisir selatan merupakan daerah yang peling banyak memiliki orang miskin. Sekitar 68.741 penduduk pesisir selatan berada dalam garis kemiskinan. Artinya masih banyak masyarakat yang tidak bias memenuhi kebuituhan-kebutuhan pokok sebagaimana mestinya. Sebagai orang pesisir selatan saya cukup prihatin dengan kondisi ini. Untuk itu, pemerintahan daerah dituntut bekerja lebih ekstra keras lagi. Dukungan dan partisipasi masyarakat (Akademisi, mahasisiwa, pengusaha dan perantau) sangat diperlukan. Prinsip penanggulangan kemiskinan seperti kebersamaan atau partisipasi, kedekatan hati dan keikhlasan serta keterbukaan dalam penyelnggaraan sangat dibutuhkan.
Usaha-usaha diatas, tidaka akan tercapai dengan maksimal apabila akar dari permasalkahan ini tidak dicairkan oleh pemerintahan propinsi dan pusat. Saat ini yang diperlukan oleh masyarakat persisir selatan adalah jalan alternative untuk membuka akses ekonami masyarakat . leinginan ini sudah seringkali disampaikan oleh bapak bupati Drs. Nasrul Abit. Jalan tersebut adalah Kambang-Muaro Labuh (Solok Selatan) dan Bayang Alahan panjang (Kabupaten Solok). Selamam ini hanya ada satu jalan yang bias ditempuh untuk sampai ke Pesisir selatan yaitu melalui padang. Padahal kabupaten pesisir selatan merupakan daerah yang paling panjang. Masyarakat membutuhkan waktu dan ongkos yang banyak untuk dapat menjual hasil usahanya. Kondisi ini diperparah lagi apabila seringkali terjadi banjir dan longsor yang berakibat putusnya jalan. Bila ini terjadi maka peningkatan produktivitas masyarakat sebagai salah satu kebijakan umum penagnggulanagn kemiskinana tidaka akan dapat tercapaai secara maksimal.
Jadi, banyaknya orang miskin di pesisir selatan buan lagi disebabkan oleh menonjolnya harga bahan poko (BBM, beras, dan inflasi). Pertumbuhan ekonomi yang masih rendah terjadinya ketimpangan dalam pembangunan atau penggulangan kemiskinan yang belum efektif, tetapi belum dibukanya akses ekonomi lewat jalan alternative tadi. Rasa percuma berbagai program pengentasan kemiskinana dicanangkan oleh pemerintah pusat dan propinsi apabial jalan alternative ini tidak juga dibuat. Pemerintahan piusat dan propinsi harus secepatnya merespon keinginan ini. Jika tidak ingin melihat rakyat pesisir selatan larut dalam kemiskinan dan ketertinggalan.

GEMPA DAN PERILAKU KITA

GEMPA DAN PERILAKU KITA
OLEH: Revi Marta Dasta
(Singgalang, sabtu,17 Maret 2007)


ditengah hiruk pikuknya berbagai elemen masyarakat dalam mebantu korban bencana gempa, sejak kita dihentakkan dengan berita kepergian beberapa angota DPRD kabupaten Solok untuk melkukan studi banding.
Kepegian anggota dewan yang terhormat ini menjadi polemic setelah beberapa unsure masyarakat mengecam tindakan tersebut ada sebuah kekhawatiran bahwa anggota DPRD yang pergi sudah “raso jo pareso”. Telah hilang rasa kemanusiaan wakil rakyat kita. Anggapan itu tentu sangat logis, sebab mereka pergi ditengah masyarakat yang tengah berduka. Smentara semua potensi yang ada dimasyarakat telah dipusatkan dalam membantu korban gempa ini.
Semenjak dua minggu terakhir ini masyarakat sumatera barat tengah dirundung duka akibat gempa bumi 6.2 skala richter. Semua komponen berlomba-lomba membeirkan bantuan untuk korban. Tidak hanya pemerintahan saja, tetapi segala unsure masyarakat seperti mahasisiwa, LSM dalam dan luar negeri, tokoh-tokoh masyarakat, perantau, partai politik maupun perorangan tidak pernaha lelah dalam memberikan bantuan. Mereka memiliki niat yang sama, yaitu meringankan penderitaan korban.
Bantuan yang diberikan juga beragam dan bervaraisi, bukan hanya sekeda r uang atau bantuan makanan lainnya, tetapi mereak juga rela menjadi relawan ditenda-tenda pengungsian. Tidur bersama pengungsi dan hidup sebagaimana layaknya seorang pengungsi yang menjadi korban musibah. Kondidsi ini bias kita temukan dihampir setiap daerah yang terkana gempa. Mereka juga membuat posko-posko bantuan, baik itu posko kesehatan, posko utnuk menampung bantuan sampai pada posko pencegahan trauma terhadap masyarakat. Jika kita melihat disamping posko, banyak berkibar berbagai institusi yang m,ambantu. Dengan banyaknya bendera tadi, dapat dipastikan telah banyak elemen masyarakat yang peduli. Tidak lupa, para dermawan ini selalu melkukan blow up terhadap kegiatan yang mereka lakukan. Terutama dimedia catak nasional dan daerah. Media telah kebanjiran iklan ucapan belasungkawa dari para dermawan. Tidak peduli besar atau kecilnya benutan yang mereka berikan, namun yang penting masyarakat tahu bahwa mereka sudah peduli. Atau bias saja “pangganti tanyo: “alah nymbang pak?”. Mungkin bias demikian sebagian dari perilaku kita.
Tidak hanya itu, ada juga yang menghujat pemreintah dalam melakukan penagggulangan bencana ini. Seperti pernyataan para perantau dari BK3AM baru-baru in. spontan langsung mendapat tanggapan dan kritikan pedas dari perantau lainnya. Jangan omong doank, begitu katanya. Hujatan demi hujatan telah mewarnai pemberitaan gempa ini. Memang kita harus saling membantu, namun kita juga harus kritis terhadap kerja pemerintah dalammenangani gempa. Jangan hanya pandai memuji-muji pemerintah. Perantau juga harus memberikan solusi. Karena memang kehadiran organisasi perantua bukan melakukan pujian dan juga hujatan. Tetapi memberikan solusi kongkrit terhadap permasalahan yang ada. Jangan kita menambah-nambahkan masalah. Kita sudah banyak masalah. Masalah gempa ini kita sudah kewalahan.seharusnya perantau memberikan penyejukan kepada kami yang di ranah minang. Bukan saling menghujan.
Lain lagi, prilaku mahasisiwa, bentuk kepedulian mereka tujukan dengan berbagia kegiatan social. Sebagai anak muda, tentunya mahasiswa hanya memiliki semangat dan keinginan yanga kauat yuntuk meringankan beban korban gempa. Mereka berlomba-lomba membuka posko bantuan. Yang banyak dilakukan mahasiswa adalah meminta sumbangan dijalan-jlan, selanjutnya didistribusikan kepada korban gempa. Banyak jalan-jalan protocol di kota padang yang tidak luput dari pantauan mahasiswa mereka rela berpanas-panas untuk meminta sumbangan. Tidak peduli dengan larangan polosi, atau banyak debu dari kenalpot kendaran yang bias membuat mereka sakit mata. Namun mungkit ini yang bias diberikan mahasiswa untuk menujukan kepedulian mereka terhadap korban. Disamping itu mereka banyak yang menjdi relawan kesehatan di masyarakat. Mungkin saja ada diantara mereka yang rela meninggalkan kuliahnya untuk sekedar mengabdi kepada masyarakat. Tetapi itulah uniknya mahasiswa, ada-ada saja yang mereka coba lakukan.
Media juga tidak tinggal diam dalam menghadapi bencana bias dikatakan media adalah sarana yang sangat berjasa dalam membantu masyarakat memperoleh indformasi. Bangun tidur, kita langsung mencari Koran dan menonton berita di TV. Koran-koran telah laku keras. Ditambahlagi tampilan dat-data yang akurat dan gambar-gambar yang langsung menyentuh kepedulian masyarakat dalam memberikan bantuan. Hamper semua halaman Koran tercatat pemberitaan tentang bencana ini mulai dari terjadinya gempa samapai pada menerima sumbangan dari berbagai khalayak. Media sangat efektif dalam mempromosikan kegaiatan-kegiatan masyarakat dalam memberikan bantuan. Juga ddalam memberikan informasi tentang jumlah korban yang tidak mendapatkan bantuan begitu juga dengan elektronik.
Berita-berita lain mulai hilang dari peredaran satu per satu. Misalnya saja berita hangat tentang terbakarnya istano pagaruyung yang menghebohkan itu. Dahulu semua mata tertujua kesitu, aliran bantuan segera berdatangan. Namun, mungkin saja momennya tidak tepat. Maka bantuan harus dialihkan kepada penangan gempa. Semua persedian masyarakt disumbangkan untuk gempa. Kerugian sudahj mencapai Rp 8 ratus miliara. Jumlah tersebuat baru kerugaian yang dialami, belum lagi dana yang dibutuhkan dalam memulihkan kembali dalam membangun perumahan dan mental masyarakat. Membutuhkan biaya yang sangat bnayk tentunya. Dari mana pemerintah Sumater Barat akan mendapatkan dana sabanyak itu. Terpaksa harus merevisi lagi APBD yang telah disahkan untuk menambah anggaran dalam penangan bencana ini.
Tidak ketinggalan, pengungsi juga banyak yang meminta sumbangan. Coba kita lihat di dekat posko-posko temapt kejadian. Banyak masyarakat yang meminta sumbangan setiap kendaraan yamg melintas selalu dimintai sumbangan. Apakah ini sudah menjdi kesepakatan atau hanya kehendak segelintir orang saja. Pertanyaannya adalah apakah bantuan yang selama ini diberikan pemerintah tidak mencukupi? Bagaimana dengan peran anggota dewan kita yang terhormat dalam menghadapi bencana ini. Sebagai orang politik dan wakil rakyat tentu mereka harus membantu meringankan beban masyarakat. Terutama masyarakat asal pemilihan mereka. Bias kit abaca di Koran banyak anggota DPRD yang telah menbirikan batuan kepada korban gempa di daerah pemilihan mereka masing-masing. Baik dari pusat maupun daerah. Sebagai wakil yang dipilih yang dipilih oleh rakyat tentu mereka memiliki sense of cricis terhadap penderitaan yang dialami masyarakat. Masing-masing partai telah mendirikan posko dan membentuk para relawan. Tidak tanggung, bolw up kegiatan ini dibuat secara besar-besaran. Mungkin saja, inilah saatnya memebar simpati kepada masyarakat.
Namun ditengah itu muncul kabar yang tidak enak, anggapan DPRD salah satu kabupatan di Sumatera Barat melakukan kunjungan kerja kedaerah lain. Kenapa kepergian mereka begitu dibesar-besarkan? Padahal itu adalah sudah menjadi tugas mereka yang harus diselesaikan apakah semua pekerjaan kita akan terhenti dengan bencana ini. Apakah kita akan larut dalam bencana ini? Tentu saja tidak. Barang kali jawabanya. Namun kenapa kepergian mereka sangat disayangkan? Semua berkomentar tentang kepergian ini. Memang selama ini perilaku dari anggota deawan yang terhormat ini sangat beragam. Ada-ada saja perilaku mereka ini. Ada yang berbuat asusila, ada yang demo minta kenaikan gaji, ada yang main judi, sampai pada ada yang kurang peduli dengan musibah yang menimpa masyarakat. Secara akal sehat tentunya kita tidak menerima, prilaku anggota dewan seperti itu. Namun kita juga jangan terlalu aprior dengan segala tingkah mereka. Banyak juga hal positif yang mereka hasilkan. Seperti bagainama kemakmuran dari masyarakat hampair bergadang tiap malam untuk rapat memikirkan yang terbaik bagi masyarakat. Ditambah lagi banyak peraturan yang mereka buat. Anggota dewan juga manusia.
Semua yang kiata lakukan dalam bencana ini tentunya akan dinilai oleh Tuhan. Sejauh mana keiklasan kita dalam membantu. Tidak usah terlalau overekting. Mari kita sama-sama membantu. Wasalam.

BENCANA DAN KEMISKINAN

BENCANA DAN KEMISKINAN
Oleh Revi Marta Dasta
(Singgalang, Rabu, 24 Januari 2007)

Memasuki tahun 2007 ini, bencana dan kemiskinan menjadi pemberitaan hangat untuk dibicarakan. Kedudukannya selalu mendapat perhatian dan komentar dari berbagai kalangan.
Ibarat juara bertahan bencana dan kemiskinan tetap menjadi primadona, menghiasi masalah kebangsaan paska tahun 2006.
Bahkan hampir mengalahkan berita besar lainnya seperti pemberantasan korupsi, pelanggaran HAM, isu poligami, kenaikan gaji anggota DPRD serta isu-isu politik lainnya.
Bencana seakan datang silih berganti, seiring dengan hangatnya isu kemiskinan di negara kita.
Bencana dimulai dengan kehilangan KM Senopati Nusantara di laut Mandalika, ratusan penumpang hilang. Kemungkinan hilangnya pesawat Adam Air Boing 737-400 tanggal 1 Januari. Sampai saat ini baru serpihannya yang ditemukan.
Di Sumbar sudah terjadi juga banjir di beberapa daerah di Pesisir Selatan yang menyebabkan trauma masyarakat. Selanjutnya musibah longsor di Dusun Rimbo Takuruang, Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman. Sementara wabah flu burung terus meinta korban. Sebelumnya tingkat kematian dalam kasus ini cenderung meningkat tajam dari tahun ke tahun.
Ditambah lagi dengan belum selesainya penanggulangan bencana Lumpur Sidoarjo oleh pemerintah.
Terakhir kita dikejutkan oleh terjadinya gempa di Manado dan Ternate yang telah membuat panik warga karena adanya isu tsunami. Jika bencana ini terus berlanjut maka anggaran akan banyak tersedot untuk penanggulangannya.
Ini terbukti dengan dimasukkannya penanganan bencana ke dalam agenda kalender politik Januari-Maret 2007 pemerintahan pusat.
Nampaknya tahun ini menjadi awal yang buruk bagi bangsa kita, bancana muncul secara bergantian. Pemerintah seakan dihadapkan pada kondisi yang sulit.
Kondisi ini diperparah dengan adanya manufer-manufer beberapa pensiunan jenderal yang cenderung menyudutkan pemerintah. Juga pentolan-pentolan mantan-mantan aktifis yang berkeinginan mencabut mandate pemerintah yang sah sebagai bentuk ketidak puasan mereka terhadap kinerja pemerintahan saat ini.
Bencana atau musibah bukanlah kehendak kita semua. Tidak ada satupun manusia yang akan mau tertimpa musibah, karena akan mendatangkan kerugian, kesengsaraan, bahkan penderitaan berkepanjangan. Dan tentu saja akan menimbulkan kemiskinan-kemiskinan baru di masyarakat.
Dengan terjadinya bencana dapat dipastikan akan meningkatkan angka kemiskinan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana ini.
Seperti rusaknya lahan pertanian masyarakat, jalan, perumahan dan sarana penunjang perekonamian masyuarakat lainnya. Padahal pertanian, perkebunan, perikanan, dan informal perkotaan merupakan sarana lapangan usaha dalam pengentasan kemiskianan.
Jika itu terjadi maka anak-anak tidak akan nyaman di dalam mengikuti pelajaran di sekolah, para orang tua akan terhambat langkahnya dalam mencari rezeki hingga akan ada sebagian mahasiswa terlambat untuk menamatkan kuliahnya.
Kemudian akan menambah jumlah orang yang tidak menamatkan pendidikan. Selanjutnya akan meningkatkan pengangguran dan kemiskinan. Menurut BKKBN, kemiskinan adalah keluarga miskin yang tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya, tidak mampu makan dau kali sehari, tidak memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja dan bepergian, tidak mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan.
Merujuk pengertian kemiskinan tadi maka sudah dapat dikatakan bahwa angka kemiskinan bertambah dengan terusnya terjadi bencana.
Bertambahnya orang miskin karena bencana harus segera dicarikan solusinya. Sekarang, orang menjadi miskin bukan sekedar karena melonjaknya bahan-bahan pokok, pertumbuhan ekonomi yang rendah tetapi mulai bergeser kepada akibat terjadinya bencana. Banyak dampak yang akan ditimbulkan dalam penaggulanagan bencana ini.
Tetapi yang paling penting tentunya menyelamatkan koraban jiwa, baik ketika saat bencana terjadi maupun sudah berlalu bencana itu akan banyak menimbulkan permasalahan. Seperti kesehatan, perumahan, pelayanan sampai pada ,mengembangkan tingkat kesejahteraan masyarakat seperti semula.
Untunglah kementrian koperasi kesejahteraan rakyat pada tahun 2007 menfokuskan agenda pemerintahan pada tiga bidang, yaitu pengurangan kemiskinan, pengangguran, peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan serta peningkatan rasa aman.
Khusus pengurangan kemiskinan dan pengangguran akan menyedot dana 4 triliun lebih melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).
Semoga dengan dana sebanyak itu pemerintah mampu untuk menanggulangi tingkat kemiskinan, termasuk dengan terjadinya bencana ini. Di samping itu, pemerintah daerah harus memiliki agenda dalam penanganan bencana dan aspek lainnya yang ditimbulkan, termasuk munculnya kemiskinan baru.
Karena terjadinya bencana tidak dapat diduga maka sudah selayaknya dibuat perencanaan dalam penanggulangannya. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya resiko terburuk akibat bencanan tadi.